Monday, 10 January 2011

Satu Semester


Awal mula pertemuan dengan Dr. Marsigit begitu berbeda. beliau menggunakan metode yang tidak umum digunakan oleh para dosen lain. Kami dipersikalan duduk di depan dengan bentuk setengah lingkaran mengelilingi beliau. Ini sesuatu yang baru bagi saya. Grogi, bukan metode mengajar yang biasa. Setelah beberapa semester barulah terungkap siapa Dr. Marsigit ini, beliau adalah orang Indonesia yang ikut mengembangkan metode dalam hal pendidikan. Wawasannya bukan hal yang ada dalam negeri saja, beliau pernah kuliah di Inggris dan beliau sering mengikuti seminar-seminar tingkat internasional bersama orang-orang besar dari negara lain.


Latar belakang pendidikan matematika yang berasosiasi dengan filsafat menjadikannya orang yang peka terhadap sesuatu di sekitarnya.


Suatu saat beliau pernah mengatakan bahwa kebanyakan guru saat ini adalah mesin. Yah saya pandang pendapat itu memang benar. Apakah Anda pernah melihat seorang guru yang hafal pada soal di dalam buku atau hafal pada kalimat-kalimat di dalam buku? Tahukah Anda alasannya? Dalam pandangan saya sendiri, guru dengan model seperti itu biasanya adalah guru senior yang mengajarkan hal yang sama dengan metode yang sama sesuai buku yang dia pegang. Pengetahuan pun berputar dari guru dan buku kepada muridnya. Menuangkan air dari teko ke gelas, mungkin itulah perumpamaannya.

Ini waktunya bagi para guru untuk bangun dari pola kebiasaan yang mendidiknya menjadi mesin. Jangan terlalu terlena dengan keamanan dan kenyamanan kurikulum yang dibuat pemerintah. Kembangkan kurikulum dan temukan metode terbaik untuk mendidik. Pengetahuan tidak lagi ada pada guru saja. Pola mangajar yang mengajar yang monoton dapat membuat siswa bosan bertemu dengan guru tertentu. Sebaliknya, kreatifitas dalam mengajar akan membuat siswa menjadi tertarik dan bersemangat belajar. Hal terpenting adalah memahami perasaan siswa yang sedang belajar dengan metode yang ternyaman bagi siswa. Saya pernah tersenyum saat Dr. Marsigit berkata yang intinya adalah, bagaimana perasaan seorang siswa yang mendengar kalimat mathematics is beautifull, sementara siswa tersebut sedang mengerjakan soal matematika yang mencekik lehernya.

Di saat lain, Anda juga perlu tahu, beliau menguraikan perbedaan cara mengejar tradisional dengan cara modern secara analogi. Cara tradisional itu bagaikan teko yang berisi banyak madu dituangkan ke cangkir-cangkir kecil. Teko adalah analogi bagi guru yang penuh dengan meteri dan ilmu pengetahuan, sedangkan cangkir adalah analogi bagi murid-muridnya. Metode guru untuk menuangkan ilmu pengetahuan dicapai dengan cara memberikan pekerjaan rumah, dengan cara ceramah, dan masih banyak yang lain. Lawannya, metode modern dianalogikan murid adalah benih-benih yang siap tumbuh menjadi pohon yang besar yang dapat berbuah dengan lebat dan menghasilkan benih-benih lainnya. Sebuah benih pohon dapat mendapatkan mineral dari manapun saat telah memiliki akar, begitu pula seorang pelajar di era ini mendapatkan pengetahuan dari manapun, karena ilmu pengetahuan tidak hanya berada di sekolah. Tugas guru adalah mengamati pertumbuhan kecerdasan dan kreatifitas siswanya. Cara belajar dengan metode ini dilakukan dengan metode diskusi  dalam kelompok.
Wow luar biasa, ada banyak hal jika kita membuka mata.

Satu hal lagi yang benar-benar menarik hati saya, sebuah cerita(ceritanya sedikit saya ubah, tapi intinya sama kok):

Pada cerita ini, ada seorang asing yang baru saja tiba di suatu negeri Indonesia. Dia kemudian menggunakan kereta api menuju kota tujuannya. Di dalam kereta dia melihat seorang pemuda yang sedang membaca kitab suci umat Islam, Al-Qur’an. Seselesainya pemuda tersebut membaca Al-Qur’an, si asing bertanya kepada si pemuda apakah makna yang dibaca itu? Si pemuda itu tidak dapat menjawab pertanyaan si asing. Lalu si asing berkata, “Mengapa kau lakukan hal yang tidak kau ketahui, bukankah itu hal sia-sia?”
Itu adalah sedikit penggalan cerita dari beliau.

Si asing tersebut adalah tokoh matematikawan yang mengawali ilmunya dari sesuatu yang disebut ketidakpahaman. Si asing mengajarkan kepada para muridnya bahwa ada banyak hak di dunia yang belum manusia ketahui.

Tahukah Anda, ada kontradiksi dalam cerita tersebut: Mengapa kau lakukan hal yang tidak kau ketahui, bukankah itu hal sia-sia? Lalu kenapa si asing malah mengatakan hal tersebut, bila si asing adalah tokoh yang memulai sesuatu dari ketidakpahaman, seharusnya si asing memberikan semangat agar pemuda tadi dapat memahami isi bacaannya.

No comments: