Monday, 10 January 2011

Jalan Baru yang Menggantikan Jalan Lama



Guru adalah sumber ilmu pengetahuan. Guru adalah pusat pembelajaran. Guru adalah unsur penting dalam pembelajaran. Guru itu otoriter. Apa yang Anda pikirkan pertama kali saat mendengar kata guru? Mungkin itu adalah anggapan-anggapan para murid terhadap para guru di Indonesia. Sebagian besar masyarakat Indonesia menganggap bahwa guru adalah sumber pengetahuan. Tentu, itu benar pada jamannya, namun sekarang sumber pengetahuan sudah menjadi sangat kompleks. Anda dapat membaca sebuah artikel sains yang terbaru dan modern yang bisa saja guru Anda belum mengetahuinya. Mungkin kan! Masihkah guru menjadi satu-satunya sumber?

Pada era ini, fungsi guru sudah bergeser sebagai seorang fasilitator bagi keberhasilan muridnya. Namun, di Indonesia, paradigma guru sebagai fasilitator belum berkembang pesat. Hal ini disebabkan oleh sebuah paradigma turun menurun dari orang-orang terdahulu, paradigma tradisional. Paradigma tradisional pun akan mempengaruhi cara berpikir seorang siswa dalam memecahkan masalah. Sebuah paradigma yang perlu digeser menuju kekreatifitasan, tradisional menuju paradigma yang mengacu pada perkembangan kreatifitas siswa.

Paradigma tradisional, paradigma ini telah sedikit terurai pada paragraf sebelumnya. Paradigma tradisional berkaitan erat dengan metode ceramah.  Paradigma ini juga beranggapan bahwa pendidikan adalah sebuah investasi untuk masa depan sehingga murid dipaksa memahami meteri yang diberikan tanpa memandang kreatifitas murid.

Dalam metode modern, pendidikan menjadi sebuah kebutuhan bagi manusia. Pendidikan pun menjadi sesuatu yang dilindingi oleh HAM. Dalam paradigma ini, siswa diberikan kebebasan untuk berpikir menurut pandangannya.

Jika dirunut makin dalam, metode modern yang mementingkan tingkat kreatifitas siswa ini justru berasal dari luar Indonesia. Metode modern ini berasal dari dunia barat, mengacu pada pikiran Aguste Comte. Dalam pikiran Aguste Comte, filsafat adalah level pemikiran dalam hidup yang paling rendah, kemudian agama, lalu teknologi. Sehingga, bukan hal yang mengherankan jika negara-negara barat menjadi negara yang maju karena mereka menganggap teknologi sebagai sesuatu yang paling tingi.

Kembali pada masalah pendidikan, jika Anda belum tahu, sebenarnya pengetahuan adalah diri siswa itu sendiri. Jadi, jika Anda ingin mengembangkan pengetahuan, kembangkanlah kreatifitas siswa.

No comments: